Cara Mengasah Sikap Kritis Dan Kreatif Anak

Cara Mengasah Sikap Kritis Dan Kreatif Anak
Cara Mengasah Sikap Kritis Dan Kreatif Anak

Oleh: Ustadzah Siti Mazidah

Adalah kewajiban orang tua untuk mengembangkan potensi anak dalam memecahkan setiap masalah yang dihadapinya. Sikap kritis dan kreatif anak yang sudah terasah sejak dini terbukti dapat menjadikannya lebih tangguh dan toleran dalam menghadapi tantangan karena mereka sudah terbiasa berfikir dan memutuskan suatu keputusan secara mandiri.

Jalan-jalan sekeluarga pada hari libur yang semestinya menjadi acara suka ria, ternyata berubah sebaliknya. Ibu lebih banyak diam dan salah tingkah. Vian pun murung sepanjang jalan. Belum lagi karena acara liburan mendapat tambahan ocehan sang ayah yang terus membabi buta. “Kamu ini memang sulit diatur! Kalau nggak diajak jalan-jalan minta jalan-jalan. Nah, sekarang giliran diajak jalan-jalan malah ngambek! Maunya apa sih?.”

Hari itu, pagi-pagi sekali Pak Khan sudah mengajak keluarganya untuk pergi tamasya ke Taman Safari. Tetapi vian merajuk dan meminta jalan-jalan ke pantai. Demi mendengar rengekan anaknya, Pak Khan makin kukuh dengan keputusannya. ”Pokoknya nggak! Kita ke Taman Safari!” mengetahui si anak ngambek sementara ayahnya pun tetap keras, si ibu lantas menenangkan Vian, ”Ya sudah, Vian ke Taman Safari saja, sayang. Kan ayah sudah mengajak kesana.”

Kalau sudah begini, siapa yang mestinya disalahkan? Apakah salah Vian yang tidak mau menuruti ajakan ayahnya? Ataukah salah Pak Khan yang memaksakan keinginannya pada anak? Atau, justru ibu yang membebek pada pendapat suaminya?

Kebanyakan orang tua memiliki hobi menggurui anaknya, terlepas siapa yang salah dan tidak salah. Dr. H. Arief Rahman, M.Pd. seorang pendidik, hanya ingin melihat dimensi lain dari sikap para orang tua. Ia menandaskan  kira-kira seperti sedemikianlah model pendidikan dalam mayoritas keluarga kita. Anak hampir-hampir bahkan bisa sama sekali tak mendapatkan hak suara.

Segala keputusan ada di tangan orang tua. Itu artinya orang tua sama saja tidak memberi kesempatan kepada anak untuk berfikir kritis dan kreatif. Hal ini antara lain disebabkan karena sikap orang tua yang terlalu paternalistik, maunya terus menggurui anak. Menurut Arief, pendekatan yang diterapkan orang tua cenderung tidak memberi kesempatan anak berfikir dan belajar menganalisis.

Cara Mengasah Sikap Kritis Dan Kreatif Anak
Cara Mengasah Sikap Kritis Dan Kreatif Anak

Akan berbeda hasilnya jika anak diberi keluasan untuk mengembangkan kemampuannya berbahasa. Paling tidak, ada kelonggaran baginya untuk mengemukakan pendapat, tanpa perlu merasa takut pendapatnya akan dibantai oleh orang tua. Dengan demikian ia dapat menggali segenap potensinya untuk berfikir, sehingga makin hari si anak makin terampil mengelola pikirannya.

Hanya saja, hal itu tak perlu sampai merancukan pengertian orang tua tentang keterampilan berfikir dengan kepandaiannya memecahkan soal-soal matematika. Bisa saja terjadi keduanya berpengaruh, tetapi tidak selalu demikian. Soalnya keterampilan berfikir dan kecermatan menggarap matematika merupakan hal yang berbeda. ”Jadi, anak yang pintar menyampaikan pendapatnya tak selalu pandai matematika,” tandas Arief.

Rangsangan dari luar pun dapat membantu anak mempertajam keterampilannya berfikir. Baik sekali kalau orang tua memberinya informasi sebanyak mungkin. Apalagi kalau anak yang menginginkannya. Sama bermanfaatnya jika orang tua dapat membantunya menemukan strategi belajar yang sesuai sehingga ia dapat mencari sendiri formula cara belajar yang paling effektif.

Lebih penting dari itu adalah kemauan orang tua untuk membenahi diri sendiri. Diperlukan kerelaan orang tua untuk mengganti pola mendidik anak, terutama dalam hal kewenangan. Mungkin dengan mengubah manajemen keluarga atau organisasi struktural keluarga. Pola pengambilan keputusan diktatorial pada satu tangan ayah selayaknya dihapuskan, lantas dibagikan kepada segenap anggota keluarga, termasuk anak. Betapapun ia dalam pengertian orang tua masih dicap ingusan.

Contohnya, kalau biasanya dogma “kata ayah adalah keputusan keluarga.” Kini mungkin tak perlu harus selalu demikian. Bisa saja anak mengembangkan hak suara dan hak pilihnya. Orangtua, baik ayah maupun ibu, dalam kasus tertentu dituntut agar rela hati untuk menggugurkan hak monopolinya.”

Tentu saja, pelibatan anak-anak itu sebatas kemampuan dan usia mereka. Apa salahnya kalau si Vian tadi dimintai pendapatnya saat ia lebih memilih berlibur ke pantai daripada ke Taman Safari. Misalnya ”Kenapa kamu lebih suka kepantai, sayang? Boleh dong ibu sama ayah tau alasannya,” tindakan ini bukan hanya akan membuat anak merasa dihargai, tapi ia sekaligus dapat berlatih berbahasa, dengan mengemukakan pendapatnya.

About Rumah Cerdas Islami | Pusat Bimbel Islami dan Training Center 42 Articles
Rumah Cerdas Islami (RCI) adalah Pusat Bimbingan Belajar (Bimbel) Islami dan Training Center yang didirikan oleh Yayasan Rumah Cerdas Islami dengan SK KEMENKUM HAM RI No : AHU-0027359.AH.01.04 Tahun 2015. Izin legal formal Rumah Cerdas Islami sebagai lembaga kursus dan pelatihan Nomor : 563/0638/415.21/2016. Adapun maksud dan tujuan Rumah Cerdas Islami adalah sebagi berikut : 1. Bidang Sosial, menyelenggarakan lembaga pendidikan formal & Non Formal 2. Bidang Kemanusiaan, memberikan pelatihan dan bantuan kepada masyarakat pada umumnya 3. Bidang keagamaan, meningkatkan pemahaman keagamaan serta syiar agama

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*