Bukan Sekedar Tahu, Tapi Juga Mau Melakukan Pengetahuan

IMG20150706092827Oleh: Betty Badi’ah Anisah,S.Psi.

Pada suatu hari seorang kawan saya kedatangan tamu dari salah satu negara di Eropa dan teman saya menawarkan kepada tamu tersebut untuk melihat objek wisata di Jakarta. Lalu pada hari yang disepakati keduanya memutuskan untuk memulai perjalanan mengunjungi tempat-tempat wisata di Jakarta. Hingga pada satu saat mereka berdua ingin menyeberang jalan, tamu tadi selalu berusaha untuk mencari zebra cross, berbeda dengan orang Jakarta lainnya yang dapat dengan mudah menyeberang dimana saja jalan yang ia lalui.

Tamu asing tadi tetap tidak terpengaruh oleh situasi di sekelilingnya. Dia terus mencari zebra cross setiap akan menyeberang, padahal di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi zebra cross. Yang lebih memalukan meskipun sudah disediakan zebra cross tetap saja para pengemudi tancap gas dan tidak mau mengurangi kecepatan guna memberi kesempatan pada yang menyeberang. Tamu asing dan teman saya geleng-geleng mengetahui perilaku masyarakat kita.

Akhirnya wisatawan mancanegara ini mencoba menanyakan mengenai fenomena menyeberang jalan tadi kepada kawan saya. Kawan saya hanya bisa terdiam mendapati pertanyaan ambigu itu. Sambil bergumam, kawan saya menjawab: Meskipun mereka tahu bahwa zebra cross itu adalah untuk menyeberang jalan namun itu tidak banyak membantu para pejalan kaki di Indonesia. Sementara itu turis asing itu selalu konsisten mencari zebra cross meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dengan zebra cross.

Pelan-pelan dia berkata kepada teman saya, “It’s all happened because of education system”. Wah bukan main kagetnya teman saya mendegar jawaban tamunya tersebut, apa hubungan menyeberang jalan dengan sistem pendidikan di Indonesia?

Bule dari Eropa itu melanjutkan penjelasannya, ”Di dunia ini ada dua jenis sistem pendidikan. Yang pertama adalah sistem pendidikan yang hanya menjadikan anak- anak kita menjadi  makhluk yang knowing atau sekedar tau saja. Sedangkan sistem pendidikan yang kedua mencetak anak-anak menjadi makhluk being.

Apa maksudnya? Maksudnya sekolah hanya bisa mengajarkan banyak hal untuk diketahui para siswa namun sekolah tidak mampu membuat siswa mau melakukan apa yang diketahui sebagai bagian dari kehidupannya. Anak-anak tumbuh hanya menjadi makhluk knowing dan sekedar mengetahui bahwa zebra cross adalah tempat menyeberang bagi pejalan kaki namun nyatanya mereka menyeberang di sembarang jalan. Mereka juga tahu bahwa tempat sampah adalah gunanya untuk menaruh sampah tapi mereka membuang sampah sembarangan.

Sekolah semacam ini biasanya mengajarkan banyak sekali mata pelajaran, tak jarang membuat para siswanya stress dan akhirnya mogok sekolah. Segala macam ilmu diajarkan dan banyak hal yang diujikan, tetapi tak satupun dari siswa menerapkannya setelah ujian karena ujiannya pun hanya sekedar tahu.

Di negara kami, sistem pendidikan benar- benar diarahkan untuk mencetak manusia-manusia yang tidak hanya TAHU apa yang benar tetapi MAU melakukan apa yang benar sebagai bagian dari kehidupannya. Di negara kami, anak-anak hanya diajarkan tiga mata pelajaran pokok, yaitu basic sains, basic art, dan social. Pelajaran tersebut kemudian dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus dan dibandingkan dengan kejadian nyata di seputar kehidupan mereka. Mereka tidak hanya TAHU , mereka juga MAU menerapkan ilmu yang  diketahui dalam keseharian hidupnya. Anak-anak ini juga tahu  persis alasan mengapa mereka mau  atau tidak mau melakukan sesuatu.

Cara ini mulai diajarkan pada anak sejak usia mereka masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaan yang kelak akan membentuk mereka menjadi makhluk being, yakni manusia-manusia yang melakukan apa yang mereka tahu benar.

Wow! Betapa sekolah begitu memegang peran sangat penting bagi pembentukan perilaku dan mental anak-anak bangsa. Kita mestinya lebih mengarahkan pendidikan untuk mencetak generasi yang tidak hanya TAHU tentang hal-hal yang benar, tapi jauh lebih penting untuk mencetak anak-anak yang  MAU melakukan apa-apa yang mereka ketahui itu benar, mencetak manusia-manusia yang BEING.

Mari membiasakan diri memberi contoh yang baik bagi anak-anak karena mengetahui yang benar tetapi tidak pernah melakukan dengan benar sama dengan tidak mengetahui. Semoga terinspirasi.

About Rumah Cerdas Islami | Pusat Bimbel Islami dan Training Center 42 Articles
Rumah Cerdas Islami (RCI) adalah Pusat Bimbingan Belajar (Bimbel) Islami dan Training Center yang didirikan oleh Yayasan Rumah Cerdas Islami dengan SK KEMENKUM HAM RI No : AHU-0027359.AH.01.04 Tahun 2015. Izin legal formal Rumah Cerdas Islami sebagai lembaga kursus dan pelatihan Nomor : 563/0638/415.21/2016. Adapun maksud dan tujuan Rumah Cerdas Islami adalah sebagi berikut : 1. Bidang Sosial, menyelenggarakan lembaga pendidikan formal & Non Formal 2. Bidang Kemanusiaan, memberikan pelatihan dan bantuan kepada masyarakat pada umumnya 3. Bidang keagamaan, meningkatkan pemahaman keagamaan serta syiar agama

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*